Kumpulan rekap dan dokumentasi kegiatan SERAH dalam format PDF. Klik kartu untuk membuka dokumen.
Barongan sebagai Tubuh yang Terus Hidup. Pertunjukan Gembong Kamijoyo Mbaba menampilkan figur yang dalam lakon ini mewakili manusia yang dikuasai ambisi, hasrat kuasa, dan keras kepala sebagai cermin sosial kehidupan hari ini. Melalui konflik dramatik yang dibangun dari gerak, bunyi, dan ritme barongan, pertunjukan ini mengajak penonton untuk mengenali diri mereka sendiri dalam pergulatan antara kebijaksanaan dan nafsu kuasa, antara kesadaran kolektif dan dorongan individualisme.
Serah #4 dengan tajuk Narasi dan Tubuh, ada sesuatu yang terasa berbeda, bahkan sedikit ganjil dalam pengertian yang menyenangkan. Program ini tidak menempatkan tari sebagai pembuka acara, melainkan sebagai acara itu sendiri. Bukan hiasan, melainkan isi. Dan justru dari sanalah persoalan sesungguhnya mulai terlihat lebih jelas: betapa langkanya ruang semacam ini di kota ini.
Teater kampung menempati posisi yang unik, berdiri di persimpangan antara tradisi lisan, ekspresi kolektif, dan kebutuhan sosial yang nyata. Ia bukan turunan dari teater formal. Adalah cara sebuah komunitas berbicara kepada dirinya sendiriβmengolah konflik, merayakan ingatan, dan menegosiasikan nilai-nilai bersama.
Serah 2, bahwa kita sebagai warga Kudus bisa melihat spektrum tema yang beragam: keresahan identitas, relasi keluarga, kritik sosial, spiritualitas, hingga isu-isu lokal yang diolah dengan sudut pandang personal. Suatu hal yang bisa dibaca bahwa sastra adalah medium penting lintas generasi untuk mengartikulasikan pengalaman batin dan realitas sosialnya.
Serah #1 menghadirkan ruang perjumpaan bagi penari, koreografer, dan penikmat seni untuk bersama-sama mengeksplorasi kemungkinan baru dalam gerakan dan ekspresi. Sebuah malam pertunjukan yang merayakan kebebasan tubuh, dialog antar spirit, serta keberanian bereksperimen di atas panggung.